ACEH UTARA – Sebanyak 110 Dayah (Pesantren) di Kabupaten Aceh Utara hingga kini belum dapat melaksanakan aktivitas belajar mengajar secara normal. Kondisi ini merupakan dampak dari bencana hidrometeorologi (banjir) yang menyisakan endapan lumpur tebal serta rusaknya fasilitas belajar para santri.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Utara, Muhammad Yunus, S.HI, mengungkapkan bahwa dari total 211 dayah yang terdampak bencana, baru sekitar separuhnya yang mulai beroperasi.
“Memasuki hari ke-42 pasca-banjir, masih ada 110 dayah yang belum aktif. Kendala utamanya adalah material lumpur yang masih memenuhi lingkungan pondok serta banyak santri yang belum kembali karena perlengkapan mereka hilang atau rusak,” ujar Muhammad Yunus saat memantau pembersihan, Selasa (6/1/2026).
Program ‘Seumeugleh’ dan Gotong Royong Lintas Instansi
Menyikapi kondisi tersebut, atas instruksi Pj Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, SE., MM., Dinas Pendidikan Dayah meluncurkan program “Seumeugleh” (Pembersihan). Program ini merupakan aksi gotong royong massal yang melibatkan Tim Peduli Dayah, relawan, serta berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Pada aksi yang berlangsung Selasa (6/1), pembersihan difokuskan di Dayah Darul Aman, Gampong Tanjung Dalam Selatan, Kecamatan Langkahan.
Aksi ini melibatkan personel dari:
Dinas Pendidikan Dayah Aceh Utara
Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan UKM
Sekretariat DPRK Aceh Utara
Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara
Butuh Dukungan Alat Berat dan Sarana Belajar
Muhammad Yunus menekankan bahwa pembersihan secara manual sulit dilakukan mengingat ketebalan lumpur yang ekstrem di beberapa titik. Pihaknya sangat mengharapkan bantuan sarana pendukung seperti alat berat (excavator/backhoe) untuk mempercepat proses evakuasi lumpur.
Selain pembersihan fisik, kebutuhan mendesak bagi para santri juga menjadi prioritas yang belum sepenuhnya tertangani.
“Kami mengetuk pintu hati semua pihak.
Saat ini santri sangat membutuhkan bantuan Pesantren Kit seperti Al-Qur’an, kitab-kitab kuning, serta perlengkapan asrama mulai dari kasur, selimut, hingga lemari pakaian. Dukungan ini sangat penting agar proses pendidikan agama di Aceh Utara bisa segera ban
gkit kembali,” pungkasnya.[]








